Pengenalan lengkap • Huruf • Sandhangan • Tanda baca • Cara membaca
20 huruf nglegena + sandhangan + pasangan + 8 tanda baca
Aksara yang hidup dalam jiwa masyarakat Jawa selama berabad-abad
Aksara Jawa atau Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ) adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa. Berasal dari aksara Brahmi India melalui Aksara Kawi, aksara ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sastra, prasasti, dan budaya Jawa sejak abad ke-15.
Aksara Jawa memiliki 20 huruf dasar (nglegena), pasangan, sandhangan vokal, aksara swara, huruf murda, dan tanda baca khas bernama Pada. Mari kita pelajari satu per satu dengan lengkap.
Hanacaraka • Dentawiyanjana
20 huruf yang mengandung makna filosofis tentang kehidupan manusia
20 huruf utama yang dibaca dengan vokal “a”
Untuk menghilangkan vokal “a” dan membuat konsonan mati di tengah kata
Contoh: Kata “anak” tidak boleh ditulis “ꦲꦤꦏ” (terbaca anak-a). Harus menggunakan pasangan: ꦲꦤꦏ꧀
A
/a/
I
/i/
U
/u/
É (E taling)
/e/
O
/o/
Ai
/ai/
| Sandhangan | Nama | Fungsi | Contoh |
|---|
Setiap huruf nglegena dibaca dengan vokal “a” di belakangnya.
Contoh: ꦲ = ha
Sandhangan mengubah vokal.
Contoh: ꦲꦶ = hi
Pangkon atau pasangan untuk mematikan vokal.
Halo halo (dibaca dengan sandhangan taling)
Ngarik Jawa → Belajar Jawa
Sugeng ngrawuh → Selamat datang
Delapan tanda baca utama dalam Aksara Jawa
Sugeng ngrawuh Jawa
Selamat datang di pembelajaran Aksara Jawa
Hanacaraka dasa wala padha jaya nya maga ba tha nga
Urutan 20 huruf dasar yang mengandung filsafat kehidupan
Uji pemahamanmu!
Aksara Jawa berakar dari Aksara Brahmi (India) → Aksara Kawi (Jawa Kuno) → Aksara Jawa Modern (sejak abad ke-14). Puncak keemasannya terjadi pada zaman Kerajaan Mataram Islam. Pada masa kolonial, aksara ini sempat terpinggirkan oleh huruf Latin, tapi kini sedang dihidupkan kembali lewat pendidikan muatan lokal dan digitalisasi Unicode sejak 2009.
Filosofi Hanacaraka: Setiap huruf mengandung makna kehidupan, seperti “ha-na-ca-ra-ka” yang melambangkan siklus hidup manusia.